Artikel 21 December 2025

SMS di Zaman Nabi

H

Husain Alfulmasi

Penulis
SMS di Zaman Nabi
Sejak awal dakwah Islam, Nabi Muhammad ﷺ tidak hanya menghadapi tantangan fisik, tetapi juga serangan psikologis dan spiritual. Orang-orang kafir Quraisy terus mencari cara untuk menghentikan laju dakwah Nabi yang semakin hari semakin banyak menggerus barisan mereka.

Keberhasilan Islam menarik hati manusia justru memantik iri dan dengki yang kian membara.
Salah satu bentuk kebencian itu tercatat dalam sejarah ketika Labid bin A‘sham, seorang dari kalangan Quraisy, tega mengirimkan sihir kepada Nabi ﷺ. Tindakan ini bukan sekadar permusuhan biasa, melainkan ekspresi penyakit hati yang akut: hasad - iri hati yang mendorong seseorang berharap nikmat orang lain lenyap. Bahaya hasad inilah yang kemudian mendapat perhatian serius dalam Al-Qur’an. Allah SWT menurunkan Surah Al-Falaq, yang oleh sebagian ulama juga disebut sebagai surah al-hasad, sebagai doa perlindungan dari kejahatan orang-orang dengki.

Ini menandakan bahwa iri hati bukan penyakit ringan, melainkan ancaman serius bagi kehidupan spiritual dan sosial manusia.
Rasulullah ﷺ pun mengingatkan dengan sangat tegas. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda agar umat Islam berhati-hati terhadap hasad, karena iri hati dapat membakar pahala sebagaimana api melahap kayu kering. Sebuah peringatan keras bahwa amal baik yang dikumpulkan dengan susah payah bisa lenyap hanya karena penyakit hati yang tak terkendali.

Ironisnya, penyakit ini tidak hanya menjangkiti musuh Islam. Rasulullah ﷺ pernah menegur karena mendengar adanya benih iri di antara sebagian sahabat- bukan karena kekurangan, tetapi justru karena nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Ini menegaskan bahwa hasad bisa menyerang siapa saja (awam, alim, kaya, miskin dll) dan kapan saja.

Dalam bahasa populer hari ini, hasad sering disebut dengan istilah SMS: Senang Melihat orang Susah atau Susah Melihat orang Senang. Penyakit ini membuat seseorang kehilangan ketenangan batin, karena hidupnya selalu sibuk membandingkan dan mencurigai kebahagiaan orang lain.

Namun Islam tidak hanya memberi peringatan, tetapi juga solusi. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa orang yang beruntung adalah mereka yang sibuk memperbaiki kekurangan dirinya sendiri, sehingga tidak memiliki waktu untuk mengurusi kekurangan orang lain. Fokus pada muhasabah diri menjadi benteng paling efektif dari racun iri hati.

Kisah “SMS di Zaman Nabi” ini menjadi cermin bagi kita hari ini. Di era media sosial, ketika keberhasilan orang lain begitu mudah terlihat, penyakit hasad justru semakin menemukan ruangnya. Maka, Surah Al-Falaq dan nasihat Nabi ﷺ tetap relevan: lindungi hati, jaga niat, dan sibukkan diri dengan memperbaiki diri.

Polewali, 20 Desember 2025

Waktu server: 16-Apr-26 18:30