Artikel 19 December 2025

Memandang Aspal, Merenung Makna (catatan di balik jendela gedos lantai 3)

M

Muhammad Yunan al-Mandary

Penulis
Di sudut-sudut sunyi kampus ini, jalur tanah dan kerikil telah menjadi sahabat sepi bagi langkah-langkah mahasiswa pencari ilmu. Tahun berganti, tapak demi tapak melekat pada debu jalan, bagai sungai kesabaran yang mengalir pelan, menyatukan ruang-ruang tempat akal dan hati beradu. Dan kini, jalan itu berpakaian baru. Ia diaspal, diperbagus dan dirapikan. Bagi mata yang melihat dengan cahaya hati, ini bukan semata urusan teknis. Ia adalah tamsil hidup tentang perjalanan batin kita sendiri.

Lihatlah jalan itu. Ia pernah berdebu di musim kemarau yang menyulitkan langkah. Ia pernah becek di musim hujan yang menguji kesabaran. Ia menerima segala tapak, dari sepatu dan sandal usang mahasiswa yang mengayuh mimpi, hingga ban mobil birokrat kampus dan ban motor dosen yang menanjak di atasnya. Jalannya tidak pernah mengeluh. Ia tunduk, sebagai tanah, menerima beban dengan syukur yang sunyi. Kini, ia sedang diberi wajah baru. Apakah dengan itu ia lantas hilang kerendahan hatinya?

Dalam tasawuf, suluk adalah perjalanan jiwa menuju Sang Kekasih. Setiap jalan fisik yang kita lalui adalah cermin jalan batin yang kita tempuh. Maka, perbaikan jalan di STAIN Majene ini penulis baca sebagai seruan halus bahwa pencarian ilmu juga menuntut kita memperbagus jalan batin kita. Ilmu itu bukan untuk menumpuk di kepala, tetapi untuk melunakkan hati, menerangi langkah, dan menyucikan niat.

Jalan yang baru nanti akan lebih rata, lebih kuat. Tapi ingatlah, kekuatan jalan bukan pada kerasnya permukaan, tetapi pada ketulusannya mengantar setiap pejalan sampai tujuan. Demikian pula ilmu. Ia bukan untuk dikeraskan menjadi dogma, melainkan untuk dijadikan jembatan menuju rahmat Ilahi. Kampus ini, dengan jalan-jalannya yang diperbagus, mengingatkan kita bahwa fasilitas lahiriyah adalah pelayan bagi cita-cita ruhaniyah.

Sebentar lagi, kita akan melihat jalan itu bersih, mulus, dan nyaman. Bahkan kelak akan ada lampu-lampu penerang di tepinya. Tapi, apakah lampu-lampu di dalam dada kita semua juga sudah kita perbagus? Apakah jalan pikiran kita sudah kita bebaskan dari belukar prasangka? Apakah jalan hati kita sudah kita lapangkan dari semak iri dan dengki?

Biarlah proyek perbaikan jalan ini menjadi metafora yang hidup, menjadi bagian dari ayat-ayat kauniyah Tuhan bagi pesuluk dan pencari hikmah. Setiap batu yang ditata, setiap aspal yang diratakan, bayangkan itu sebagai langkah-langkah kita menata niat, meratakan keikhlasan, mengukuhkan komitmen untuk menghidupkan ilmu. Sebagaimana jalan itu dibangun untuk memudahkan perjumpaan antara gedung yang satu dan yang lain, ilmu pun dibangun untuk memudahkan perjumpaan antara hamba dan Tuhannya.

Akhirnya, jalan yang bagus itu hanya akan bermakna jika dilalui oleh pejalan-pejalan yang mulia. Pejalan yang tidak hanya mengejar indeks prestasi, tetapi juga mengindeks kebeningan jiwa. Pejalan yang tidak hanya sibuk menghitung SKS, tetapi juga menghitung syukur atas setiap nafas ilmu yang dianugerahkan.

Maka, selamat datang, jalan baru. Jadilah penghubung yang tidak saja menghubungkan gedung perkuliahan ke perpustakaan dan laboratorium, tetapi juga menghubungkan akal budi ke cahaya Ilahi. Dan untuk kita yang melintasinya, semoga setiap langkah di atas perbaikan kita adalah mi'raj kecil menuju pemahaman yang lebih dalam, bahwa seindah apapun jalan, ia hanyalah perantara. Tujuan sejatinya adalah sampai, yaitu sampai pada-Nya, dengan ilmu yang membawa berkah.

Akhirnya, biarlah jalan ini menjadi wasilah (perantara). Wasilah bagi datangnya lebih banyak mahasiswa baru, pecinta ilmu. Wasilah bagi menguatnya semangat berkarya, menjadi unggul dan mala'bi'. Wasilah bagi lestarinya senyum syukur di setiap wajah yang melintas, wasilah bagi STAIN Majene untuk memantapkan diri beralih bentuk menjadi IAIN atau UIN. Dan yang terpenting, wasilah untuk terus membuktikan bahwa di ujung sana, semua jalan pada hakikatnya mengarah pada-Nya. Asal kita tahu arah langkahnya.

Akhir kata, salam dari ketinggian, dari Gedos lantai tiga, di mana pandangan terbang lebih jauh. Dari balik kaca jendela, penulis renungkan akhir sebuah penantian, yaitu: "dari chaos debu menuju kosmos yang teratur". Hamparan jalan beraspal yang rapi dan terbentang itu adalah lembaran baru yang mesti dibaca dengan mata hati, direnungkan dengan khusyuk, dan dibalas dengan syukur yang tak putus-putusnya.

Waktu server: 22-Apr-26 16:32