Mengawali tulisan ini, saya memohon kepada Allah yang Maha mengetahui, agar senantiasa menganugerahkan ilmu, kekuatan dan istiqamah dalam fitrah ketuhanan.
Tulisan kali ini, memfokuskan pada pengkajian tafsir sufistik. Tafsir sufistik sesungguhnya bukanlah ilmu baru. Secara akademik, tafsir sufistik merupakan ranting ilmu dari cabang ilmu, Ilmu al-Qur’an dan Tafsir dan sudah sangat popular sebagai salah satu pendekatan tafsir bercorak sufistik dalam interpretasi terhadap al-Qur’an.
Kajian ini mengeksplorasi bagaimana teks suci dipahami melalui pengalaman batin, dan realitas spiritual, bukan hanya pemahaman rasional-tekstual. Artinya bahwa penafsiran sufistik menekankan makna batin di balik lafaz lahir, dengan tujuan membangun kedekatan spiritual (al-qurb) antara hamba dengan Tuhannya. Tafsir ini tidak menafikan makna zahir, tetapi memandangnya sebagai pintu menuju pemahaman yang lebih dalam.
Sehubungan dengan itu, hermeneutika tafsir sufistik adalah pendekatan penafsiran Al-Qur'an yang menggabungkan metode hermeneutika (ilmu menafsirkan teks) dengan dimensi spiritual tasawuf untuk menggali makna batin (esoterik), dan pengalaman spiritual yang melampaui makna literal, yang dilakukan oleh tokoh-tokoh sufi seperti Imam Al-Ghazali.
Maka konsep utama hermeneutika sufistik. *Pertama* , makna batin (esoterik), yaitu mencari makna tersembunyi di balik teks yang zahiriyah. Makna esoteric ini hanya bisa diakses melalui penyucian jiwa dan kedekatan dengan Tuhan.
*Kedua* , pengalaman spiritual, yaitu menganggap Al-Qur'an sebagai teks hidup yang berbicara langsung pada pengalaman spiritual individu, bukan hanya sekumpulan hukum atau qissah.
*Ketiga* , tadabbur (perenungan), proses mengkaji Al-Qur'an secara mendalam dengan hati, yang mengarah pada transformasi akhlak dan kesadaran ilahi.
*Keempat* , hubungan penafsir dengan teks, yaitu hubungan personal spiritual antara mufasir dengan teks-teks Al-Qur’an, di mana pengalaman batin mufasir sangat mempengaruhi penafsirannya.
Dalil yang sangat popular di kalangan kaum sufi dalam melegtimasi penafsiran sufistiknya dan diyakini sebagai hadis, walaupun dianggap daif di kalangan ulama hadis, sebagai berikut:
أنزل القرآن على سبعة أحرف لكل آية منها ظهر وبطن ولكل حد مطلع
Al-Qur'an diturunkan dalam tujuh huruf. Setiap ayat darinya memiliki sisi zhahir (luar) dan sisi batin (dalam), dan setiap batasan (hukum) memiliki tempat pemahaman. (Muhammad ad-Duwaisy, Tanbih al-Qari’).
Para sufi dalam penafsiran sufistiknya berangkat dari sebuah keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah kalam Ilahi yang tak terbatas maknanya, baik secara zahir maupun secara batin dan hati yang suci diberikan oleh Allah kemampuan menangkap isyarat-isyarat Ilahiah.
Maka dimensi yang sering ditampilkan oleh penafsiran sufistik adalah *tazkiyat* *an-nafs* (penyucian jiwa), ma‘rifatullah (pengenalan kepada Allah), *Mahabbah* (cinta ilahi), *Al-uns* billāh (keintiman dengan Allah)
Pondasi pemahaman kaum sufi ini merujuk pada salah satu firman Allah pada Qs.
إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُۥ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى ٱلسَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal (hati) atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.
Kaum sufi juga telah menyampaikan berbagai argumentasi untuk pembenaran terhadapat adanya makna batin yang terkandung dalam al-Qur’an. Seperti Imam Al-Qusyairī menegaskan:
لَيْسَتِ الإِشَارَةُ مِمَّا يُبْطِلُ الظَّاهِرَ، بَلِ الظَّاهِرُ أَصْلٌ وَالإِشَارَةُ تَبَعٌ
“Makna isyarat tidak membatalkan makna zahir; makna zahir adalah pokok, sedangkan isyarat adalah cabangnya.”
Imam al-Gazali mengatakan:
الْقُرْآنُ بَحْرٌ لَا سَاحِلَ لَهُ، وَلَا يَبْلُغُ قَعْرَهُ إِلَّا مَنْ غَاصَ فِيهِ
“Al-Qur’an adalah lautan yang tak bertepi, dan tidak mencapai dasarnya kecuali orang yang menyelaminya.”
Sementara Abu ‘Abd ar-Raḥman as-Sulami, juga menjelaskan:
إِنَّمَا يُفْتَحُ مِنْ أَسْرَارِ القُرْآنِ عَلَى قَدْرِ التَّزْكِيَةِ
Sesungguhnya rahasia Al-Qur'an hanya akan dibukakan sesuai dengan kadar penyucian diri.
Demikian para sufi menyampaikan argumentasi sebagai pembenaran terhadap kebolehan penafsiran sufistik terhadap al-Qur’an.
Tokoh-tokoh tafsir yang lain seperti Ar-Raghib al-Isfahani dalam Al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an, dan Sahl al-Tustari dalam Tafsir al-Tustari, juga menyampaikan hal yang sama tentang potensi AL-Qur’an dilakukan penafsiran berdasarkan pengalaman ruhani seorang sufi.
Mahbub Ghozali dalam hasil penelitiannya yang berjudul “Hermeneutika Sufistik Imam al-Gazali dalam Mishkat al-Anwar” menjelaskan bahwa Imam al-Ghazali berpandangan bahwa sumber pengetahuan adalah *al-‘ilm al-mukashafah* (ilmu penyingkapan), sejenis ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui pewahyuan dan iluminasi.
Al-Ghazali menggambarkan serupa dengan cahaya yang muncul dalam hati (qalb). Lanjut al-Ghazali, al-‘ilm al-mukashafah adalah “tersingkapnya selubung”, sehingga kebenaran sejati menjadi sangat jelas. (Mutawatir: Jurnal Keilmuan Tafsir).
Demikian juga hasil penelitian Jhoni Satri dan Reflita dengan judul “Konstruksi Hermeneutika Tafsir Sufistik” menjelaskan bahwa Pengetahuan intuitif sebagai salah satu perangkat dalam tafsir sufi. Pengetahuan yang diperoleh oleh sufi, mereka yakini sebagai ilmu ladunni, sejenis pengetahuan yang diperoleh melalui pengilhaman (ilhām), langsung ke dalam hati.
Hati (qalb) yang suci berpotensi untuk berdialog dengan Tuhan sehingga melahirkan ilmu pengetahuan. (Mashdar: Jurnal Studi al-Qur’an dan Hadis).
Di dalam salah satu tulisan saya yang berjudul “Metodologi Penefsiran Sufistik Imam al-Gazali” juga dijelaskan bahwa penafsiran sufistik ini adalah suatu upaya dalam menafsirkan Alquran yang didominasi paham sufi yang dianut oleh mufasirnya, karena tasawuf telah menjadi dasar atau legitimasi atas pemahaman tasawufnya. (Jurnal: Diskursus Islam_UIN Alauddin Makassar).
Oleh karena itu, Hermeneutika tafsir sufistik adalah pendekatan yang menempatkan pengalaman batin, pembersihan diri (tasawuf), dan perenungan mendalam sebagai kunci untuk memahami Al-Qur'an pada tingkat yang lebih tinggi, melampaui pemahaman tekstual semata, untuk mencapai hubungan yang lebih erat dengan Tuhan.